Minggu, 04 September 2011

Formwork Striking/Bongkaran Bekisting Pelat untuk sistem Slab & Beam

Formwork
Sangat sedikitnya referensi mengenai bongkaran bekisting /formwork striking atau removal of formwork menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk membuat bahasan tersebut. Jika kita lihat kurikulum di perkuliahan jurusan teknik sipil di berbagai kampus, mungkin materi perkuliahan tentang bekisting/formwork sangatlah sedikit. Karena itu wajar apabila masalah bekisting/formwork ini terutama mengenai hal waktu pembongkaran bekisting dalam sebuah proyek seperti gedung  selalu menjadi diskusi yang ‘menarik’. Ya..,Saya katakan saja  ‘menarik’ karena kesepahaman antara waktu yang tepat atau waktu diperbolehkannya untuk membongkar bekisting akan berbeda antara satu proyek dengan proyek lainnya.
Dalam postingan ini,para pembaca tidak akan menemukan teori teori tentang faktor faktor yang menentukan terhadap waktu yang tepat kapan saat bongkaran bekisting bisa dilaksanakan tanpa kerusakan permanen pada slabs seperti akibat lendutan yang melampaui ijinnya dan crack yang berlebihan. Biarlah itu menjadi tugas dari para ahlinya seperti Tim Penyusunan Standardisasi di negeri ini.Karena saya sendiri boleh dikatakan seorang praktisi yang pernah berkecimpung di dunia bekisting/formwork, maka disini saya hanya membuat sebuah prediksi dan simulasi susunan penyediaan bekisting dan perancah sehingga distribusi pembebanan pada level tertentu pada lantai gedung bisa menjadi sebuah gambaran dalam pendistribusian beban akibat pekerjaan bongkaran bekisting dan reshoring dengan acuan dari ACI 318 Chapter 6 di bawah ini: Sebelum mulai dengan pembahasan, saya mohon maaf jika pembahasannya sangat singkat, hal ini harap dimaklumi mengingat rumitnya dan banyaknya materi pembahasan yang tidak mungkin dituangkan dalam postingan ini, karena untuk menjadi project planner di dunia bekisting/formwork pun memerlukan waktu pembelajaran yang tidak singkat.
Oke..mari kita mulai ..,
1.Data Proyek
Lantai Typikal


Tebal Slab                                 =15 cm
Mutu Beton                               = 35 MPa
Mutu Besi Tulangan                    = 400 MPa
Siklus Cor                                  = 7 hari
2. Penentuan Rencana/Prediksi bongkaran Bekisting Slab
Setelah mempunyai data seperti di atas, selanjutnya kita akan membuat Rencana/prediksi Bongkaran Bekisting slab,misalkan seperti berikut ini:
Bekisting lantai       = 5 hari setelah cor dan di shoring dengan Pipe Support
Bekisting Balok      = 8 hari setelah cor dan di shoring dengan Pipe Support
Pipe Support          =21 hari setelah cor
3. Simulasi Siklus Cor Lantai
Jika rencana bongkaran bekisting sudah ditentukan, buatlah simulasi siklus cor lantai seperti ini:
Dari gambar diatas, sekarang kita dapat mengetahui bentuk susunan bekisting,scaffolding dan shoring pada proyek yang akan dibangun tersebut.Kemudian untuk menganalisa bongkaran tiap lantai,pembebanan yang terjadi telah dapat di ketahui, seperti misalnya kondisi pada lantai 2 dan lantai lainnya seperti B2,B1 dan seterusnya, dimana ketika akan dilakukan pekerjaan bongkaran bekisting ternyata dilantai atasnya telah terjadi kegiatan pemasangan besi tulangan slab.  
4. Pola Pembebanan untuk bongkaran Bekisting/Formwork
Selanjutnya mari kita tentukan pembebanan pada lantai yang bekisting nya akan dibongkar . Dalam menentukan besarnya beban yang bekerja, tiap Negara tentu mempunyai peraturan pembebanan masing masing seperti pernah di muat pada posting Bekisting Horisontal.
Sekarang kita Tinjau lantai B2:

Dari gambar di atas maka dapat di ketahui Pola pembebanan di Lt B2 adalah sebagai berikut:
1. Berat sendiri Slab beton         = 0,15 m x 2400 kg/m3 = 360 kg/m2
2. Beban Hidup Lt B2                 = 150 kg/m2
3. Beban Formwork Lt B3                   = 75 kg/m2 (tergantung jenis bekisting)
4. Beban Besi Tulangan Lt B3     = 30 kg/m2
5. Beban Hidup Lt B3                 = 150 kg/m2
Hufffh..rehat sejenak he..he..ternyata sudah panjang tulisannya..Oke, kita
5. Analisis Slab akibat Beban pada point 4
Dari data pembebanan pada point 4, selanjutnya kita bisa mencari Momen Maksimum dan Lendutan maksimum yang terjadi akibat beban beban tersebut. Caranya silahkan dengan kebiasaan masing-masing. Jangan lupa,mutu beton sesuai dengan umur beton slab yang ditinjau seperti dalam contoh kita ini adalah umur beton 5 hari.
Karena prediksi bongkaran bekisting/formwork ini dibuat sebelum proyek pembangunan gedung belum dimulai, maka data laboratorium pengujian mutu betonnya tentu belum ada. Akan tetapi hal ini tidakmenjadi kendala karena kita bisa memasukan nilai fc beton sesuai dengan pengalaman proyek yang pernah kita laksanakan ..lihat hubungan hasil tes uji tekan beton..yang nantinya kita sesuaikan kembali pada saat proyek tersebut telah berjalan.
Langkah selanjutnya adalah menghitung Momen Resistance (MR) penampang slab tebal 15 cm tersebut, kemudian bandingkan dengan nilai Momen Maksimum tadi. Jika hasilnya MR > Mmax…maka slab tersebut pada usia 5 hari sudah boleh di bongkar.
Kemudian Modulus Elastisitas beton bisa di hitung dengan formula: E = 4700 (f'c^0,5 ), dimana f’c dalam satuan MPa. Ini diperlukan untuk menghitung jumlah pipe support pada area slab yang di bongkar bekistingnya.
6. Metode Bongkaran Bekisting/Formwork
Mengingat waktu bongkaran yang relative singkat, dalam hal ini yang dimaksud dengan ‘relative singkat’ yaitu usia beton diatas 3 hari, Tentunya akan mempengaruhi kualitas dari beton tersebut. Crack akibat lendutan yang melampaui ijinnya serta akibat pembongkaran bekisting/formwork yang tidak memenuhi aturan akan sangat merugikan.
Untuk itu, harus ada prosedur pembongkaran bekisting/formwork yang baik. Pembongkaran bekisting/formwork harus dilakukan dengan hati-hati dan diawasi secara ketat. Minimal Pembongkaran bekisting lantai sistim slab dan beam dilakukan dengan cara sebagai berikut:
-         Bongkaran Bekisting dimulai dari yang termudah, yaitu pada pertemuan panel/plywood slab dengan bagian sideform balok.
-         Bongkaran dilakukan per panel atau per lembar plywood dan langsung di shoring misal dengan pipe support( mengenai shoring, semoga ada kesempatan untuk membahasnya pada kesempatan lain )
-         Setelah area slab yang dimaksud telah selesai di shoring, lakukan pengamatan secara rutin pada pipe support. Jika pipe support melengkung secara ekstrim, artinya perlu ada penambahan shoring/pipe support.
-     Dengan adanya pembongkaran bekisting/formwork, tentunya proses kehilangan air pada penampang beton akibat terjadinya penguapan akan semakin besar. Untuk itu perlu adanya pemeliharaan beton pasca bongkaran bekisting setidaknya 5 hari sesudahnya.




READ MORE

Sabtu, 27 Agustus 2011

Minyak Atsiri sebagai Campuran Umpan Pancing Ikan

Kali ini saya membuat judul postingan yang boleh di bilang agak aneh.Meski nantinya blog ini terkesan ‘campursari’,tapi menurut saya tidak ada salahnya untuk membuat semacam artikel resep/tips berdasarkan cerita pengalaman pribadi.
Pada awalnya, ada seorang bapak yang rutin membeli minyak nilam ke pabrik penyulingan minyak nilam yang saya kelola di kota garut.Secara rutin Dia membeli minyak nilam dengan volume 1 Kg tiap 2 minggu sekali.Bahkan kesininya dia mulai pesan minyak atsiri jenis lain seperti minyak Sereh wangi (Citronella oil),minyak Sirih (Piper Bettle oil)dan minyak Akar wangi (vertiver oil).
Singkat cerita, karena seringnya dia membeli minyak, saya jadi tahu kalau ternyata bapak tersebut ternyata seorang penjual alat pancing dan umpan ikan.Dia cerita bahwa minyak atsiri yang dia beli itu kemudian di jual dengan kemasan botol ukuran 5 – 10 cc. Menurutnya, pembeli minyak dalam kemasan botol tadi banyak dipesan oleh pemancing ikan dari daerah sekitar garut ,bahkan ada juga yang pesan dari daerah bandung serta sukabumi.Mereka menambahkan minyak tersebut pada umpan racikan mereka dengan dosis tertentu.
Sebagai orang yang awam di dunia pemancingan ikan, aku sendiri tidak tahu apa betul mencampurkan minyak atsiri tertentu dengan adonan umpan ikan bisa membuat umpan ikan tersebut menjadi jitu?..Penasaran dengan hal ini, pada suatu kesempatan ketika saya berkunjung ke rumah saudara di sukabumi, saya membawa minyak nilam untuk di berikan kepada saudaraku yang hobi mancing ikan di kolam pemancingan. Beberapa waktu kemudian ternyata saudaraku itu minta minyak lagi karena katanya setelah memakai minyak nilam tersebut dia menjadi sering dapat ikan meski tergantung jenis airnya (wah..aku gak ngerti deh dengan pengaruh air kolam ini juga).Yang saya tahu bahwa minyak nilam bersifat fiksatif yaitu mengikat wangi-wangian sehingga wangi-wangian seperti wangi perfume akan lebih lama menempel.Itulah mengapa minyak nilam digunakan sebagai bahan campuran parfume.
Akhir kata, mengenai resep umpan ikan ini saya serahkan kepada para pemancing mania......
READ MORE

Kamis, 25 Agustus 2011

Minyak Atsiri : Teknologi Budidaya Atsiri

Melengkapi postingan Minyak Atsiri:Pendahuluan,Pada era globalisasi saat ini, dituntut kemampuan untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing. Teknologi yang efisien dan ramah lingkungan sangat diperlukan. Oleh sebab itu program penelitian lebih diarahkan kepada upaya mendapatkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi yang tahan penyakit dan teknologi budidaya yang berbasis ekologi ramah lingkungan.
1. Kesesuaian Lingkungan
Melalui studi kesesuaian lingkungan, Balai Penelitian Tanaman obat dan aromatik (Balitro) telah memetakan beberapa komoditas seperti nilam, cengkeh, pala,ksyu manis,kapolaga dan sebagainya yang menguraikan wilayah wilayah yang sesuai untuk pengembangan suatu tanaman. Pemetaan diperlukan karena salah satu sebab rendahnya produktivitas tanaman adalah pengembangannya yang tidak di lokasi yang sesuai dengan persyaratan tumbuh. Peta kesesuaian yang dan iklim yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menentukan teknologi yang diperlukan mulai dari bahan tanam, kebutuhan pupuk, pola tanam hingga panen dalam suatu wilayah.
Tabel Persyaratan Tumbuh tanaman Atsiri:
2. Tindakan Agronomis
Tindakan agronomis diperlukan atas dasar evaluasi lahan. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesuburan tanah baik sifat fisik, kimia dan biologi serta iklim. Sifat fisik terutama drainase dan tekstur tanah.Untuk lokasi yang tergenang dan tekstur liat dibutuhkan pembuatan saluran air (drainese). Tanah dengan kandungan N,P dan K yang rendah perlu pemupukan terutama pupuk kandang. Sementara tanah yang asam perlu pengapuran.
Pengembangan pola tanam campuran dan sistim rotasi atau campuran berpeluang untuk mereduksi populasi pathogen dalam tanah.Rotasi dapat memutuskan siklus hidup pathogen, meningkatkan populasi agen pengendali hayati dan tanah dapat bersifat suppressive terhadap patoge.
Tindakan konservasi seperti penggunaan mulsa dan pengairan diperlukan terutama untuk daerah yang beriklim kering. Pengendalian gulma diperlukan pada stadia awal pertumbuhan. Pengendalian gulma diperlukan untuk menghindari kemungkinan adanya sumber atau inang penyakit. Khusus untuk tanaman atsiri semusim, diperlukan teknik pergiliran tanaman/rotasi dengan tanaman lain sehingga dapat memutus siklus OPT (organisme pengganggu tanaman).Penggunaan tanaman yang bersifat repellent (pengusir serangga) seperti serai wangi terbukti efektif untuk menekan serangan OPT pada tanaman perkebunan.
3.Penggunaan bahan organik
Bahan organik merupakan komponen penting dalam budidaya tanaman karena memperbaiki sifat biologi, kimia dan fisik tanah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang sekam,limbah daun cengkeh,kotoran sapi dan kotoran kambing merupakan bahan organik yang dapat digunakan dalam budidaya tanaman atsiri. Begitu pula dengan limbah sisa hasil penyulingan tanaman atsiri seperti limbah nilam dan serai wangi, setelah diolah menjadi kompos.
Untuk menentukan berapa pupuk organik yang diperlukan sebaiknya tanah di analisa terlebih dahulu.Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi tidak perlu diberikan pupuk kandang dengan dosis tinggi. Pada tanaman yang dipanen batang dan daun seperti nilam, umumnya hara yang terangkut cukup tinggi sehingga dosis pupuk organik yang diberikan dalam sistim pertanian organik relatif tinggi yaitu antara 10 – 20 ton/Ha.
4.Agen Pengendali Hayati dan Pestisida Hayati
Salah satu faktor pembatas produksi dalam bidang pertanian adalah hama tanaman.Beberapa jenis pestisida nabati cukup efektif terhadap beberapa jenis hama, diantaranya mimba, biji bengkuang,akar tuba,abu serai dapur,kayu manis,minyak atsiri selasih dan brotowali (Kardinan, 2009) serta pestisida nabati berbahan aktif minyak cengkeh, kayu manis dan serai wangi (Djazuli dan Sukamto,2008).
Selain pestisida nabati,penggunaan agensia hayati (mikroba)yang bersifat antagonis terhadap patogen penyebab penyakit perlu menjadi perhatian. Agensia pengendali hayati adalah grup mikroorganisme yang digunakan untuk pengendalian penyakit tanaman secara biologi(Meisak,2010).
Secara keseluruhan,pada teknologi budidaya yang ramah lingkungan, aspek lingkungan dan kesehatan menjadi faktor utama. Untukmendapatkan produksi dan mutu atsiri yang tinggi,teknologi mulai dari perbanyakan bahan tanaman hingga pemanenan harus sesuai SOP (Standard Operational Procedure) dan bertitik tolakkepada kondisi lahan, seperti pemilihan lokasi yang sesuai,teknologi pemupukan dengan pupuk organik, penanaman sesuai anjuran seperti bibit yang sehat dan varietas unggul,pemeliharaan serta panen tepat waktu dan tepat umur.
READ MORE

Minggu, 21 Agustus 2011

Minyak Atsiri :Pendahuluan



Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil minyak atsiri dunia yang cukup berperan hingga saat ini. Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri meliputi sekitar 200 species (Ketaren,1985) dimana 40 species diantaranya terdapat di Indonesia (Rusli dan Hobir,1990). Tanaman penghasil minyak atsiri terdiri dari tanaman berupa pohon seperti kenanga, pala, cengkeh, kayu manis,masoi, cendana, kayu putih dan lain lain, sedangkan yang berupa perdu adalah nilam, serehwangi, akar wangi,kapolaga,kemukus, jahe, ketumbar, mawar dan melati. 
Jenis minyak atsiri yang telah diproduksi dan beredar di pasar dunia mencapai 70 – 80 macam, 15 macam diantaranya berasal dari Indonesia (NAFED, 1993). Minyak atsiri/Essence Oil diperoleh dari tanaman dengan cara penyulingan uap dari daun, batang, kayu atau kulit batang, bunga dan biji tanaman.Minyak atsiri ini digunakan dalam industri parfum, kosmetik, makanan, minuman dan obat-obatan.
Sebagai penghasil minyak atsiri yang cukup besar di dunia, Indonesia harus mempertahankan keberadaannya dan mengikuti pola perkembangan kebutuhan hidup manusia umumnya.Khususnya di era globalisasi yang mana kebutuhan akan pola hidup yang sehat merupakan suatu keharusan.
Adanya peningkatan jumlah penduduk menjadikan kebutuhan akan sandang, papan dan pangan semakin meningkat pula. Hal ini menyebabkan penggunaan lahan menjadi semakin tidak terkendali. Lahan terancam rusak dan tidak subur lagi yang pada akhirnya diperlukan teknologi yang mampu memecahkan masalah tersebut. Penggunaan bahan kimia yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman ternyata mengakibatkan pola hidup yang tidak sehat.
Adanya pengaruh buruk penggunaan bahan kimia terhadap lingkungan dan manusia mendorong upaya untuk melakukan penyelamatan agar kondisi buruk tidak terus berlanjut, yaitu melalui penerapan teknologi konservasi tanah dan penanaman tanaman dengan sistim organik yang pada prinsipnya merupakan teknologi budidaya yang ramah lingkungan.
Konservasi tanah merupakan salah satu bagian penting dari budidaya pertanian yang sering terabaikan. Padahal tanpa tindakan konservasi tanah, produktivitas lahan yang tinggi dan usaha di bidang pertanian tidak terjamin akan berlangsung secara berkelanjutan. saat ini tindakan konservasi yang lebih diutamakan lebih diarahkan kepada lereng lereng perbukitan.
Kegiatan industri minyak atsiri dapat berperan di sini, dimana dengan melakukan penanaman tanaman minyak atsiri di lereng lereng tersebut dapat mencegah bencana longsor.Beberapa teknik konservasi yang dapat diterapkan untuk atsiri adalah dengan sistim pola tanam, yaitu pengolahan tanah dengan sistim guludan/penterasan dan pembuatan saluran drainase.
Selain konservasi lahan, masyarakat juga telah memahami pentingnya arti kesehatan yang senantiasa menghendaki produk pertanian yang berkualitas seperti pertanian organik. Pertanian organik adalah cara bertani yang mengandalkan bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis seperti pupuk dan pestisida serta benih hasil rekayasa genetika. Hal ini seharusnya dapat di terapkan dengan baik mengingat nenek moyang kita telah menerapkannya secara temurun yang merupakan kearifan local atau pengetahuan asli masyarakat seperti halnya penggunaan akar tuba untuk menangkap ikan dan mengendalikan hama, air tembakau untuk membunuh lintah, daun suren untuk menghalau hama walang sangit dan lainnya. Kearifan local ini mulai menghilang seiring masuknya bahan kimia pestisida ke Indonesia.
Bersambung…..
Sumber: Konferensi Nasional Minyak Atsiri Oktober 2010 di Bandung,Rosihan Rosman,O Trisilawati, M Djazuli (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik)
READ MORE

Minggu, 07 Agustus 2011

Bekisting Horisontal:Gambar Metode Kerja Multiplex

Melanjutkan materi sebelumnya yaitu bekisting horisontal,Hal paling mendasar dalam pemasangan bekisting adalah bagaimana cara memasang dan menyusun scaffolding & bekisting dengan baik, sehingga syarat kekuatan,stabilitas serta ekonomis bisa tercapai.Usahakan sebelum menghitung kebutuhan material bekisting, setelah melalui tahapan perhitungan kekuatan dari masing-masing material bekisting (plywood,secondary timber/balok pembagi,main beam/timber serta scaffolding),kita plotkan terlebih dahulu  gambar susunan bekisting pada software gambar yang memiliki keakuratan tinggi seperti Autocad,sehingga kebutuhan material penyusun bekisting seperti bekisting horisontal yang mempunyai volume besar pada sebuah proyek nantinya dapat diestimasi dengan baik. Kemudian buatkan sebuah konfigurasi susunan scaffolding dan bekisting berdasarkan data spesifikasi material (pihak rental atau subkon pasti memilikinya).Selain  untuk estimasi, hal ini juga untuk menghindarkan kesulitan pemasangan dilapangan.
Berikut ini gambar dari metode pemasangan bekisting balok dan lantai  (maaf tidak terlalu detail):






Perlu diperhatikan bahwa konfigurasi main beam arah panjang Scaffolding 180 cm (girder GT-24) seperti pada gambar di atas adalah untuk ketebalan slab sampai 30 cm.Artinya untuk ketebalan lantai yang lebih dari 30 cm seperti Drop Panel yang umumnya mempunyai ketebalan minimal 50 cm maka jarak kaki scaffolding harus dipendekan lagi menjadi 90 cm, atau tergantung kepada hasil perhitungan kekuatan main beam (bisa girder atau balok kayu 8/15) serta kapasitas dari scaffoldingnya.Untuk dimensi Balok, saya belum bisa menampilkan batasannya, mengingat kompleknya data balok yang ukuran lebar x tingginya sangat beragam.
Sekian dahulu postingan kali ini, semoga bermanfaat.    


READ MORE